Kamis, 19 November 2015

Logo


Logo ini saya ikutkan dalam kontes Event Rhymes.
Ide saya itu yang sebelah kiri itu huruf dan sebalah kanan itu huruf R, hahahahaha. Mungkin sedikit memaksa.

Senin, 02 November 2015

Benih Pohon

Melihat jalan jalan di Bogor kadang kagum dengan begitu banyak pohon pohon yang besar. Namun juga terkadang seram juga jika melewatinya di saat hujan deras. Karena terkadang hujan deras di Bogor ada bonus angin kencang yang bisa menumbangkan pohon itu.
Pohon pohon yang besar itu tidak serta merta langsung besar saat ditanam. Semua pohon itu juga ditanam dari benih atau paling tidak ditanam dengan menggunakan steak atau cangkok. Lama kelamaan pohon itu akan tumbuh menjadi besar.
Saat pohon itu masih kecil, pohon itu dengan mudah akan tercabut dari akar. Bahkan oleh binatang yang tidak besar sekalipun, contohnya ayam.
Namun seiring dengan berjalannya waktu maka pohon itu akan makin susah untuk dicabut. Akarnya pun semakin besar dan menghujam bumi.
Demikian pula dengan perbuatan kita. Kebiasaan kita itu ibarat kita sedang menanam benih pohon.
Jika kita bisa melakukan perbuatan baik dari kecil maka kita sebenarnya kita sedang menanam benih pohon. Kalau kita terbiasa melakukannya maka sebenarnya kita sedang memelihara pohon itu agar semakin besar.
Ibarat perumpaan tadi, pohon yang besar itu susah untuk dicabut dari akarnya bahkan kalaupun dipotong masih ada akar yang tersisa dalam tanah.
Demikian juga dengan perbuatan jahat. Jika kita terbiasa melakukannya maka kita pun sedang menanam benih pohon itu. Jangan sampai pohon itu jadi besar dan susah dicabut ya ?

Kamis, 29 Oktober 2015

Lupa berTuhan

Tulisan ini dibuat untuk diriku sendiri. Mohon maaf jika ada yang merasa tidak berkenan.
Saya melihat sekarang ini banyak orang yang beragama namun lupa berTuhan.
Ranah sang Illahi menjadi sesuatu yang tidak tabu untuk dimasuki. Berdasarkan agama kita bisa mencabut sesama kita. Kita lantang berteriak bahwa ini salah ini benar sesuai persepsi kita.
Layak pertandingan bola seharusnya kita hanya bisa berperan sebagai pemain, pelatih, penonton, komentator. Tapi wasit tetaplah satu. Bayangkan jika kita semua ini menjadi wasit. Maka pertandingan akan sangat kacau.
Sebagai sesama memang kita harus mengingatkan sesama kita jika menurut kita dia salah. Tapi jika dia tetap ngeyel dengan sikapnya ya sudah biarkan dia seperti itu. Ini hidupnya bukan hidup kita.
La kalau kemudian dia mencoba memasuki kehidupan kita menurutku disitulah kita akan survive dengan cara membentengi atau melengkapi diri kita dengan perlengkapan yang memadai.
Ranah Illahi biarlah tetap pada tempatnya. Jangan keblinger dengan menyamakan dirimu denganNya hingga kamu bisa merebut kuasa itu.

Jakarta, 29 Oktober 2015

Senin, 19 Oktober 2015

.com

Seperti biasa pagi ini bangun saat yang lain subuhan.
Ritual berikutnya nyetel tv cari berita pagi, biasa biar ga kudet dan cari bahan obrolan ntar pas sarapan.
Pas lagi fokus liatin tv, jreng jreng ada di running text Ikuti lomba selfie dalam rangka hut partai anu. Untuk informasi lebih lengkap buka partaianu.com.
.com????
Saya coba liat di wikipedia biar saya tidak salah asumsi.

The domain name com is a top-level domain(TLD) in the Domain Name System of theInternet. Its name is derived from the wordcommercial,[1] indicating its original intended purpose for domains registered by commercial organizations. 

Hahahahaha, itu partai apa toko mangga dua?
Jadi sodara sodara, kalau partai di kita itu ga mikirin rakyat itu ternyata ga salah. Yang salah kita yang milih mereka yang .com.
Selamat pagi dan selamat beraktivitas.....

Minggu, 18 Oktober 2015

Mendengarkan

When you talk,
you are only repeating
what you already know.
But if you listen,
you may learn
something new.
Quote ini saya dapatkan tadi pagi dari sebuah sosial media.
Menarik bagi saya karena serasa sedikit menampar saya.
Saya jadi sedikit flash back ke belakang bagaimana saya yang lebih banyak berbicara daripada mendengarkan.
Padahal sudah ada ungkapan bijak juga bahwa kita diciptakan dengan mulut satu dan telinga dua agar kita lebih banyak mendengarkan daripada berbicara.
Menurut quote di awal tadi, saat kita berbicara maka kita hanya mengulang saja apa yang sudah pernah kita ketahui.
Untuk beberapa kondisi memang hal ini bisa dibenarkan.
Tetapi saat kita mulai mendengarkan maka bisa jadi kita akan mendapatkan sesuatu yang baru.
Saya yang sudah terbiasa berbicara memang agak kesulitan disaat kita disuruh mendengarkan, hahahahha.
Tapi namanya belajar itu wajar.
Jadi saya pun sekarang diingatkan kembali untuk belajar mendengarkan sekitar kita.

Sabtu, 17 Oktober 2015

Logo travel


Ini adalah logo yang saya buat untuk sebuah kontes desain.
Brand yang saya buat namanya Whitney World Travel.
Karena travel identik dengan transportasi maka saya pilih pesawat. Dan untuk menekankan logo W saya buat seperti di atas.
Have fun bro....

Kamis, 15 Oktober 2015

Syarat Hidup

Sharing dr blog Aditya Mulya 😊😉

October 12th, 2015

Generasi Sebelumnya

Ada seorang operations manager dari sebuah client kantor gue – yang cool banget. Kita undang dia makan siang dan nasinya keras. Kita sebagai vendor yang baik, meminta maaf. Dia bilang,

“Gak papa. Justru saya suka nasi keras. Gak suka tuh saya, beras sushi.”

“Kok sukanya nasi yang keras Pak?” I cannot help but to ask.

“Iya, orang tua saya ngajarin jangan pernah buang makanan. Nasi kemarin juga kita makan.”

This may be simple. But this, blew my mind.

Dan setelah gue menjadi orang tua, di sini lah gue lihat banyak orang tua mulai mengambil langka yang tidak disadari, berdampak.

“Saya waktu kecil, miskin. Saya pastikan anak-anak saya mendapatkan yang terbaik, termahal.”

“Waktu kecil, saya makan aja susah. Saya pastikan mereka itu sekarang makan enak.”

“Waktu kecil, saya belajar ditemani lilin dan 2 buku. Sekarang anak saya, saya sekolahkan ke Inggris.”

We experienced the worst and therefore we tend to give the best.

The question is, is the best…is what our children need? Really?

Orang sukses itu menjadi sukss karena (1) dididik dengan benar, terlepas dari dari apakah dia kaya atau miskin (2) dididik oleh kesulitan yang dia hadapi.

Kita akui ada anak orang kaya yang tetap jempolan attitudenya dan perjuangannya. Tapi kita lihat kebanyakan orang sukses juga dulunya sulit. Kesulitan (dalam beberapa kasus, kemiskinan) itu yang menjadi drive orang-orang untuk menjadi sukses. Ini adalah resep yang nyata. Kesulitan yang orang-orang sukses ini hadapi adalah ladang ujian di mana mereka menempa diri mereka menjadi orang sukses.

Pertanyaannya, jika kita ingin mencetak anak-anak yang bermental baja, kenapa kita justru memberikan semua kemudahan? Kenapa justru kita hilangkan semua kesulitan itu?

Karena dengan menghilangkan kesulitan-kesulitan itu, justru kita menciptakan generasi yang syarat hidupnya banyak.

Generasi Berikutnya

Apa yang terjadi dengan dari hasil thinking frame ‘dulu saya susah, saya tidak ingin anak saya susah’? Ini yang terjadi:

Anak dari teman ibu gue terbiasa makan beras impor thailand. Di 98, kita terkena krisis dan orang tuanya tdiak lagi mampu beli beras impor. Yang terjadi adalah, anaknya gak bisa makan.

Ada anak dari teman yang terbiasa makan es krim haagen dasz, ketika pertama kali makan es krim lokal, dia muntah.

Ada cucu yang ngamuk di rumah neneknya karena di rumah nenek, gak ada air panas.

Gue tidak mencibir mereka. Apa adanya seorang manusia itu terjadi dari nature dan nurture. Semua ini, adalah nurture.

Bahkan di kantor pun sama. Di kantor kebetulan gue jadi mentor seseorang (saat ini). Dalam sebuah kesempatan, dia pernah berkata “Duh, gak nyaman di posisi ini.”

Di lain kesempatan, “Sayang ya, si X resign, padahal dia membuat saya nyaman di kantor sini.”

Pada kali kedua gue mendengar mentee gue ngomong ini, gue mulai masuk “Kamu sadar gak, kamu udah 2 kali menggarisbawahi bahwa kenyamanan dalam kerja itu, penting bagi kamu.”

“…”

“Emang sih idealnya nyaman. Tapi sayangnya, this is life. We don’t get to pick ideal situations. Sometimes we need to settle with what we have and deal with it.

Tentang kenyamanan, coba jadikan itu sebagai sesuatu yang ‘nice to have’ dan bukan ‘must have’.”
 
What to Do?

Gue menyukai cara Sultan Jogja mendidik anak-anaknya. Gue pernah dengar bahwa di saat batita, anak sultan dikirim untuk hiidup di desa. Makan susah, main tanah, mandi di sumur. Intinya, meski dia anak sultan, dia tidak tahu bahwa dia anak sultan dan dia merasakan standar hidup yang rendah – dan merasa cukup dengan itu. Setelah agak besar, dia kembali ke istana. Dampaknya, semua Sultan, bersikap merakyat. Dia makan steak, tapi dia tahu bahwa steak yang dia makan adalah sebuah kemewahan. Bukan sebuah syarat hidup niminum.

Gue pun memiliki syarat-syarat hidup. Semenjak menjadi seorang bapak, gue berubah total dan gue kikis hilang itu semua. Karena gue tidak ingin anak-anak gue memiliki syarat hidup yang banyak. Dan satu-satunya cara memastikan itu terjadi adalah bahwa gue pun tidak boleh memiliki syarat hidup banyak.

Gue mengajak mereka naik kopaja atau transjakarta setiap hari ke sekolah, sebelum mereka merasakan bahwa naik angkutan umum itu, rendah.

Gue membiarkan mereka tidur di lantai. Siapa tahu suatu saat nanti mereka harus terus-terusan.

Gue mematikan AC saat mereka tidur – siapa tahu mereka suatu saat cannot afford air conditioning.

Gue tidak menginstall air panas karena gue ingin anak-anak gue baik-baik saja jika suatu saat nanti mereka tiap hari harus mandi air dingin.

Gue melarang mereka main tablet karena gue ingin mereka tidak tergantung dengan kemewahan itu.

Gue melarang mereka menilai teman dari merk mobil mereka karena merk mobil itu gak pernah penting, dan gak akan penting.

Kita pergi ke mall memakai kopaja. And we have fun ketawa-ketawa, seperti jutaan orang lain.

Gue tidak membuang nasi kemarin yang memang masih bagus. Instead gue makan sama anak-anak gue. Siapa tahu suatu saat, that is all they can afford. Agak keras. And we like it.

We teach them to pursue happiness so that they learn the value and purposes of things. Not the price of things.

Nasi kemarin yang masih perfectly safe to eat, masih punya value. Kopaja dan mercy memiliki purpose yang sama, yaitu mengantar kita ke sebuah tempat.

AC atau gak AC memberikan balue yang sama. A good night sleep.

Kenapa semua ini penting? Kita harus ingat bahwa generasi bapak kita adalah generasi yang bersaing dengan 3 milyar orang. Mereka bisa mengumpulkan kekayaan dan membeli kemudahan untuk generasi kita. Kita harus bersaing dengan 7 milyar orang. Anak kita nanti mungkin harus bersaing dengan 12 milyar orang di generasi mereka.

One needs to be a tough person to be able to compete with 12 billion people. Dan percaya lah, memiliki syarat hidup yang banyak, tidak akan membantu anak-anak kita bersaing dengan 12 milyar orang itu.

Anjing yang Baik dan yang Jahat

Yin yang
Hitam putih
Baik buruk
Semua hal di atas bagaikan kepingan logam. Selalu ada dalam dua sisinya.
Demikian juga dengan diri kita. Dalam diri kita juga ada hal baik dan buruk. Orang bijak mengibaratkan seperti anjing yang baik dan anjing yang jahat.
Mana yang lebih dominan?
Yang lebih dominan atau menonjol adalah yang paling sering kita beri makan. Sama halnya dengan makhluk hidup, mereka pun akan semakin besar jika mereka mendapatkan makanan.
Anjing yang baik akan semakin bertumbuh jika kita memberinya makanan yang baik baik. Bertutur kata yang baik, melakukan hal yang baik, berpikir yang baik.
Anjing yang jahat adalah sebaliknya.
Bagaimana dengan anda? Anjing mana yang paling sering anda beri makan?

Rabu, 14 Oktober 2015

RENUNGAN 1 MUHARRAM 1437 H

RENUNGAN 1 MUHARRAM 1437 H

Saudaraku...

Jika kekayaan bisa membuat orang bahagia, tentunya Adolf Merckle, orang terkaya dari jerman, tidak akan menabrakkan badannya ke kereta api.

Jika ketenaran bisa membuat orang bahagia, tentunya Michael Jackson, penyanyi terkenal di USA, tidak akan meminum obat tidur hingga overdosis.

Jika kekuasaan bisa membuat orang bahagia, tentunya G. Vargas, presiden Brazil, tidak akan menembak jantungnya.

Jika kecantikan bisa membuat orang bahagia, tentunya Marilyn Monroe, artis cantik dari usa, tidak akan meminum alkohol dan obat depresi hingga overdosis.

Jika kesehatan bisa membuat orang bahagia, tentunya Thierry Costa, dokter terkenal dari Perancis, tidak akan bunuh diri, akibat sebuah acara di televisi.

Ternyata, bahagia atau tidaknya hidup seseorang itu, bukan ditentukan oleh seberapa kayanya, tenarnya, cantiknya, kuasanya, sehatnya atau sesukses apapun hidupnya.

Tapi yang bisa membuat seseorang itu bahagia adalah dirinya sendiri... mampukah ia mau mensyukuri semua yang sudah dimilikinya dalam segala hal.

"Kalau kebahagiaan bisa dibeli, pasti orang-orang kaya akan membeli kebahagiaan itu. dan kita akan sulit mendapatkan kebahagiaan karena sudah diborong oleh mereka."

"Kalau kebahagiaan itu ada di suatu tempat, pasti belahan lain di bumi ini akan kosong karena semua orang akan ke sana berkumpul di mana kebahagiaan itu berada."

Untungnya kebahagiaan itu berada di dalam hati setiap manusia.
Jadi kita tidak perlu membeli atau pergi mencari kebahagiaan itu.

Yang kita perlukan adalah HATI yang BERSIH dan IKHLAS serta PIKIRAN yang JERNIH, maka kita bisa menciptakan rasa BAHAGIA itu kapan pun, di manapun dan dengan kondisi apapun."

KEBAHAGIAAN itu milik "Orang-orang yang pandai BERSYUKUR".

"JIKA KAMU TIDAK MEMILIKI APA YANG KAMU SUKAI, MAKA SUKAILAH APA YG KAMU MILIKI SAAT INI..."

Saudara - saudariku tercinta.....

Selamat Tahun Baru 1 Muharram 1437H.

Selasa, 13 Oktober 2015

Waktu

Sudah begitu lama tidak pernah mengisi blog ini.
Hampir 5 tahun, hahahahhaa.
Mencoba untuk kembali mencorat coret blog ini kembali dengan tulisan tulisan ringan tentang apa yang aku alami.
Waktu terus berputar takkan perduli siapapun dirimu.
Sekaya apa pun engkau, setinggi apa pun jabatanmu, engkau takkan pernah dapat mengendalikan waktu.