Kamis, 29 Oktober 2015

Lupa berTuhan

Tulisan ini dibuat untuk diriku sendiri. Mohon maaf jika ada yang merasa tidak berkenan.
Saya melihat sekarang ini banyak orang yang beragama namun lupa berTuhan.
Ranah sang Illahi menjadi sesuatu yang tidak tabu untuk dimasuki. Berdasarkan agama kita bisa mencabut sesama kita. Kita lantang berteriak bahwa ini salah ini benar sesuai persepsi kita.
Layak pertandingan bola seharusnya kita hanya bisa berperan sebagai pemain, pelatih, penonton, komentator. Tapi wasit tetaplah satu. Bayangkan jika kita semua ini menjadi wasit. Maka pertandingan akan sangat kacau.
Sebagai sesama memang kita harus mengingatkan sesama kita jika menurut kita dia salah. Tapi jika dia tetap ngeyel dengan sikapnya ya sudah biarkan dia seperti itu. Ini hidupnya bukan hidup kita.
La kalau kemudian dia mencoba memasuki kehidupan kita menurutku disitulah kita akan survive dengan cara membentengi atau melengkapi diri kita dengan perlengkapan yang memadai.
Ranah Illahi biarlah tetap pada tempatnya. Jangan keblinger dengan menyamakan dirimu denganNya hingga kamu bisa merebut kuasa itu.

Jakarta, 29 Oktober 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar