Anakku namanya VALERIE SAMANTHA NATHALIE GRACIA.
Lahir 5 Desember 2009. Ini kisahnya saat dia hadir di bumi ini....
Jumat, 4 Desember 2009 kurang lebih sore hari.
Istriku sudah mengeluh mulas mulas. Pikiranku sudah tidak tenang di kantor. Aku selalu memantau perkembangannya. Kita sepakat, kalau memang aku tidak ada saatdi sampingnya, aku minta dia nyewa angkot ke rumah sakit terdekat. Bukan berarti aku tidak mau menjadi suami siaga, tapi karena lokasi kerjaku di BSD dan rumahku yang sangat jauh sehingga kami mengambil kesepakatan itu.
Sampai saat aku pulang, ternyata istriku masih bisa tahan. Akhirnya malam itu kita memutuskan jalan ke RS Carolus di Jakarta. Sampai di sana, istriku diperiksa dan tidak diperbolehkan pulang lagi mengingat jarak rumah kami yang di Bogor. Istriku mengalami bukaan pertama pukul 02.00 dinihari.
Waktu terus berjalan dan menurut perkiraan perawat, jabang bayi akan lahir maksimal kurang lebih pukul 12 siang.
Makin mendekati perkiraan lahir, istriku makin merasakan mulas yang luar biasa. Suatu pengalaman tersendiri saat menemani istriku di ruangan. Aku hanya bisa berdoa karena tidak tahu persis apa yang sedang dialami istriku. Aku dan mertuaku bergantian berjaga di samping istriku. Sampai bukaan ke tujuh, aku benar benar sudah tidak tahu apa yang aku lakukan lagi.
Istriku sudah merasa tidak kuat jadi kami hanya berusaha mendukungnya agar persalinan ini berjalan normal.
Kurang lebih pukul 11.30 anakku lahir. Saat itu hujan deras dan petir yang bunyinya sangat keras mengiringi kelahiran putri pertama kami. Lahir dengan berat 2,6 kg dan panjang 46 cm.
Satu hal yang waktu itu kita ingat adalah saat dia menangis. Wajahnya sangat merah saat itu. Kami memberi julukan anak kami Tomato Rainy :)
Kami akan melanjutkan cerita kami besok lagi ya....
Sabtu, 27 Februari 2010
Jumat, 26 Februari 2010
Iklan
Pernah perhatikan iklan BB yang baru dari operator three?
Kalau diperhatikan, ada yang menarik di sana yaitu hitungan untuk per minggu dan per bulan.
Ternyata hitungan per minggu jatuhnya lebih murah dari pada hitungan per bulan ?
Tidak percaya ?
Lihat saja sendiri di http://www.three.co.id/
Kalau diperhatikan, ada yang menarik di sana yaitu hitungan untuk per minggu dan per bulan.
Ternyata hitungan per minggu jatuhnya lebih murah dari pada hitungan per bulan ?
Tidak percaya ?
Lihat saja sendiri di http://www.three.co.id/
Kamis, 25 Februari 2010
Harmoni
Kemarin saat di ulang tahun perusahaanku kerja, aku melihat film kenangan akan sesosok Michael Darmawan Ruslim, presiden direktur perusahaanku yang baru saja meninggal dunia belum lama ini. Sosoknya yang pintar, ramah, dan murah senyum diakui oleh banyak orang dari berbagai kalangan. Dari sesama rekan direksi sampai dengan kalangan bawah seperti supir atau OB. Memang benar pepatah orang bilang, di saat orang baik lahir ia akan disambut dengan tawa dan saat dia tiada air mata akan mengiring kepergiannya.
Selamat jalan pak Michael.......
Berikut petikan lagu dari grup band Padi yang mungkin bisa mewakili ungkapan hatiku.
aku mengenal dikau
tlah cukup lama separuh usiaku
namun begitu banyak
pelajaran yang aku terima
kau membuatku mengerti hidup ini
kita terlahir bagai selembar kertas putih
tinggal ku lukis dengan tinta pesan damai
dan terwujud harmoni
segala kebaikan
takkan terhapus oleh kepahitan
ku lapangkan resah jiwa
karna ku percaya kan berujung indah
Selamat jalan pak Michael.......
Berikut petikan lagu dari grup band Padi yang mungkin bisa mewakili ungkapan hatiku.
aku mengenal dikau
tlah cukup lama separuh usiaku
namun begitu banyak
pelajaran yang aku terima
kau membuatku mengerti hidup ini
kita terlahir bagai selembar kertas putih
tinggal ku lukis dengan tinta pesan damai
dan terwujud harmoni
segala kebaikan
takkan terhapus oleh kepahitan
ku lapangkan resah jiwa
karna ku percaya kan berujung indah
Selasa, 23 Februari 2010
Jempolmu Harimaumu
Mungkin itu pepatah yang cocok buat sekarang ini. Di zaman teknologi yang sudah maju, bukan lagi mulut yang maju melainkan jempol kita. Lewat twitter atau facebook kita bisa membuat orang lain senang namun juga bisa menyakiti sesama kita. Jadi hati hatilah gunakan jempolmu....
Senin, 22 Februari 2010
Kangen
Jumat, 19 Februari 2010
Kupu - kupu
Suatu pagi yang cerah.....
Seorang anak bermain main di kebun rumahnya. Dia berlari ke sana kemari. Dia melihat segala sesuatunya indah. Suatu saat dia melihat kupu-kupu yang sangat indah bentuknya. Kemana kupu-kupu itu pergi,dia selalu mengikutinya.
Hingga suatu ketika kupu-kupu itu terbang tinggi meninggalkan dirinya. Anak itu pun kemudian kembali mencari apa yang menarik dikebun itu.
Matanya kemudian melihat sebuah kepompong yang sudah sedikit terbuka kulitnya. Tampak sekilas sayap kupu-kupu yang sangat indah. Ia pun duduk menunggu kupu-kupu itu keluar dari kepompong.
Waktu terus berjalan namun lubang kepompong itu hanya sedikit saja tambah lebarnya. Anak itu pun berusaha sabar menunggunya. Tetapi semakin lama waktu berjalan anak itu kasihan dengan kupu-kupu didalam kepompong itu.
Akhirnya dia memutuskan untuk membantu kupu-kupu itu, dengan cara membantu menyobek kulit kepompong itu. Dan kupu-kupu itu terbebas dari kepompong.
Namun apa yang terjadi? kupu-kupu itu jatuh terhempas ketanah. Ia tidak dapat terbang karena sayapnya terlalu lemah.
Anak itu tidak tahu bahwa sebenarnya proses kupu-kupu keluar dari kepompong itu memperkuat sayapnya sehingga sayap itu bisa kokoh saat kupu-kupu keluar dari kepompong.
Rasa kasihan sang anak akhirnya menghancurkan sayap indah si kupu-kupu.
Seorang anak bermain main di kebun rumahnya. Dia berlari ke sana kemari. Dia melihat segala sesuatunya indah. Suatu saat dia melihat kupu-kupu yang sangat indah bentuknya. Kemana kupu-kupu itu pergi,dia selalu mengikutinya.
Hingga suatu ketika kupu-kupu itu terbang tinggi meninggalkan dirinya. Anak itu pun kemudian kembali mencari apa yang menarik dikebun itu.
Matanya kemudian melihat sebuah kepompong yang sudah sedikit terbuka kulitnya. Tampak sekilas sayap kupu-kupu yang sangat indah. Ia pun duduk menunggu kupu-kupu itu keluar dari kepompong.
Waktu terus berjalan namun lubang kepompong itu hanya sedikit saja tambah lebarnya. Anak itu pun berusaha sabar menunggunya. Tetapi semakin lama waktu berjalan anak itu kasihan dengan kupu-kupu didalam kepompong itu.
Akhirnya dia memutuskan untuk membantu kupu-kupu itu, dengan cara membantu menyobek kulit kepompong itu. Dan kupu-kupu itu terbebas dari kepompong.
Namun apa yang terjadi? kupu-kupu itu jatuh terhempas ketanah. Ia tidak dapat terbang karena sayapnya terlalu lemah.
Anak itu tidak tahu bahwa sebenarnya proses kupu-kupu keluar dari kepompong itu memperkuat sayapnya sehingga sayap itu bisa kokoh saat kupu-kupu keluar dari kepompong.
Rasa kasihan sang anak akhirnya menghancurkan sayap indah si kupu-kupu.
Jumat, 12 Februari 2010
Apalah arti sebuah nama (1)
Apalah arti sebuah nama kata Shakespeare.
Itu sebuah ungkapan yang terkenal. Bagi saya sebelumnya ungkapan itu tidak ada artinya namun akhirnya pengalaman merubah pikiranku.
Mataram, kurang lebih Februari 2006......
Aku mendapat tugas untuk support cabangku yang ada di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Itu tugas pertama keluar kotaku. Segala sesuatu sudah aku siapkan jauh jauh hari. Tiba saatnya berangkat. Aku berangkat dari bandara Adi Sucipto Jogjakarta. Sedangkan dua rekanku berangkat dari Jakarta dan memang transit ke Jogja. Siang hari pesawat Garuda datang dari Jakarta, mbak Leni dan mbak Wiwik, kedua rekanku dari Jakarta datang. Itu pertama kali aku bertemu mereka. Akhirnya kita bersama sama berangkat ke Mataram. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam, kita sampai di bandara Selaparang (kalau ga salah namanya :p)
Kita pun melanjutkan perjalanan ke hotel Lombok Inn. Kita konfirmasi dengan receptionist. "Apakah ada booking kamar untuk PT. A ?", tanya mbak Lenny.
"Ada bu", jawab receptionist.
"1 kamar double dengan 1 extra bed", lanjutnya.
Jiah..................
Karena waktu itu masih pegawai baru, belum banyak yang mengenalku. Demikian juga dengan adminku. Karena namaku Kusuma Gracia, dipikir aku cewek dan diberi 1 kamar dengan 2 rekanku yang kebetulan cewek.
Ini pengalaman bukan yang pertama aku dikira cewek. SUdah banyak email yang memanggilku Ibu. Tapi waktu itu karena bukan di daerahku agak gokil dan kepikiran juga.
Akhirnya kita kontak ke adminku dan dibukain 1 kamar lagi untuk diriku yang imut imut ini.....
Kesimpulan : jangan pernah melihat nama untuk menentukan gender :)
Itu sebuah ungkapan yang terkenal. Bagi saya sebelumnya ungkapan itu tidak ada artinya namun akhirnya pengalaman merubah pikiranku.
Mataram, kurang lebih Februari 2006......
Aku mendapat tugas untuk support cabangku yang ada di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Itu tugas pertama keluar kotaku. Segala sesuatu sudah aku siapkan jauh jauh hari. Tiba saatnya berangkat. Aku berangkat dari bandara Adi Sucipto Jogjakarta. Sedangkan dua rekanku berangkat dari Jakarta dan memang transit ke Jogja. Siang hari pesawat Garuda datang dari Jakarta, mbak Leni dan mbak Wiwik, kedua rekanku dari Jakarta datang. Itu pertama kali aku bertemu mereka. Akhirnya kita bersama sama berangkat ke Mataram. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam, kita sampai di bandara Selaparang (kalau ga salah namanya :p)
Kita pun melanjutkan perjalanan ke hotel Lombok Inn. Kita konfirmasi dengan receptionist. "Apakah ada booking kamar untuk PT. A ?", tanya mbak Lenny.
"Ada bu", jawab receptionist.
"1 kamar double dengan 1 extra bed", lanjutnya.
Jiah..................
Karena waktu itu masih pegawai baru, belum banyak yang mengenalku. Demikian juga dengan adminku. Karena namaku Kusuma Gracia, dipikir aku cewek dan diberi 1 kamar dengan 2 rekanku yang kebetulan cewek.
Ini pengalaman bukan yang pertama aku dikira cewek. SUdah banyak email yang memanggilku Ibu. Tapi waktu itu karena bukan di daerahku agak gokil dan kepikiran juga.
Akhirnya kita kontak ke adminku dan dibukain 1 kamar lagi untuk diriku yang imut imut ini.....
Kesimpulan : jangan pernah melihat nama untuk menentukan gender :)
Kamis, 11 Februari 2010
Gigi (3)
Masih nyambung tentang gigi....
Jogja kurang lebih di tahun 2002
Seperti biasa aku kuliah di kampus tercinta. Dari siang hari sampai dengan sore hari. Pas keluar kampus, ketemu Yudi, namun kali ini dia bawa helm
Mendung menggayut kota Jogja, kita pun memutuskan untuk segera pulang. Dengan bergegas kita pergi meninggalkan kampus. Kita naik motor kesayanganku, Yamaha Force 1, motor kesayanganku waktu itu.
Karena menghindari hujan, aku memacu kendaraanku di atas kecepatan 70 km/jam. Sampai di daerah sebelum Prambanan, ada saat kita sedang melaju kencang, ada suara denting besi jatuh. Aku pun bertanya ama Yudi, "Yud, suara apa itu, tolong dicek".
Yudi pun mengecek dengan melongok longok kan kepala. Plat nomer ada, sekrup sekrup juga utuh. "Kayaknya ga ada apa apa Ga", jawab Yudi.
Kita pun melaju tenang. Sampai depan Bogem Kalasan, aku merasa ada yang aneh dengan motorku, ada yang hilang gitu. CUman aku ga tau apa yang kurang. Sampai akhirnya mendekati lampu merah Prambanan.
Aku mengurangi kecepatan karena di depan lampu berwarna merah dan ........
Treteteeeeeeeeeeeeeeeeeeeet...............akhirnya aku tahu apa yang kurang di motorku. Persneling giginya gak ada, hahahaha. Aku jadi kebingungan, karena posisi tidak bisa pindah gigi dan saat itu masuk gigi 4 alias top gear. Aku pun langsung berpikir bunyi denting besi tadi adalah bunyi persnelingku yang jatuh. Setelah ngobrol ma Yudi, kita pun memutuskan balik untuk mencari potongan jasad persneling itu. Setelah muter muter tidak karuan, kita tidak menemukan juga, padahal aku yakin di situ tempat aku mendengar bunyi itu.
Karena makin mendung, akhirnya kita memutuskan untuk kembali saja ke Klaten. Masalah belum selesai, karena posisi gigi motorku yang sudah masuk gigi 4, setiap kali berhenti di perempatan, Yudi harus turun dulu untuk mendorong motornya karena tarikan motor jadi berat. Plus bensin yang menipis.Kita berdua dah diam ga karuan. Berharap yang terbaik buat kita. Aku dah mikir, kalau sampai abis bensin aku tinggal saja karena sudah tidak mungkin mengisi bensin tanpa mematikan mesinnya
Untunglah, bensin habis pas saat kita sampai di rumah Yudi......
Esoknya motor baru aku ambil dan tentunya dengan membeli persneling gigi dulu sebelum membawa pulang dan mengisi bensinya, hohohohoho.
Jogja kurang lebih di tahun 2002
Seperti biasa aku kuliah di kampus tercinta. Dari siang hari sampai dengan sore hari. Pas keluar kampus, ketemu Yudi, namun kali ini dia bawa helm
Mendung menggayut kota Jogja, kita pun memutuskan untuk segera pulang. Dengan bergegas kita pergi meninggalkan kampus. Kita naik motor kesayanganku, Yamaha Force 1, motor kesayanganku waktu itu.
Karena menghindari hujan, aku memacu kendaraanku di atas kecepatan 70 km/jam. Sampai di daerah sebelum Prambanan, ada saat kita sedang melaju kencang, ada suara denting besi jatuh. Aku pun bertanya ama Yudi, "Yud, suara apa itu, tolong dicek".
Yudi pun mengecek dengan melongok longok kan kepala. Plat nomer ada, sekrup sekrup juga utuh. "Kayaknya ga ada apa apa Ga", jawab Yudi.
Kita pun melaju tenang. Sampai depan Bogem Kalasan, aku merasa ada yang aneh dengan motorku, ada yang hilang gitu. CUman aku ga tau apa yang kurang. Sampai akhirnya mendekati lampu merah Prambanan.
Aku mengurangi kecepatan karena di depan lampu berwarna merah dan ........
Treteteeeeeeeeeeeeeeeeeeeet...............akhirnya aku tahu apa yang kurang di motorku. Persneling giginya gak ada, hahahaha. Aku jadi kebingungan, karena posisi tidak bisa pindah gigi dan saat itu masuk gigi 4 alias top gear. Aku pun langsung berpikir bunyi denting besi tadi adalah bunyi persnelingku yang jatuh. Setelah ngobrol ma Yudi, kita pun memutuskan balik untuk mencari potongan jasad persneling itu. Setelah muter muter tidak karuan, kita tidak menemukan juga, padahal aku yakin di situ tempat aku mendengar bunyi itu.
Karena makin mendung, akhirnya kita memutuskan untuk kembali saja ke Klaten. Masalah belum selesai, karena posisi gigi motorku yang sudah masuk gigi 4, setiap kali berhenti di perempatan, Yudi harus turun dulu untuk mendorong motornya karena tarikan motor jadi berat. Plus bensin yang menipis.Kita berdua dah diam ga karuan. Berharap yang terbaik buat kita. Aku dah mikir, kalau sampai abis bensin aku tinggal saja karena sudah tidak mungkin mengisi bensin tanpa mematikan mesinnya
Untunglah, bensin habis pas saat kita sampai di rumah Yudi......
Esoknya motor baru aku ambil dan tentunya dengan membeli persneling gigi dulu sebelum membawa pulang dan mengisi bensinya, hohohohoho.
Gigi (2)
Adalah seorang dari kampung yang pergi ke kota untuk membeli kendaraan roda dua. Kebetulan orang ini agak tonggos alias mrongos (kalau orang Jawa bilang tutik = untune metu sethitik ). Orang ini tergiur dengan iklan iklan di televisi. Dia pun memberanikan membeli kendaraan roda dua keluaran terbaru meskipun dia belum bisa mengendarainya. Setelah bertanya tanya ke salesman dia pun memutuskan untuk membeli motor bebek model terbaru.
Dia pun kembali ke rumah dengan perasaan bangga dan senang.
Waktu berjalan, ternyata dia tidak bisa juga mengendarai motor itu. Jadi setiap hari dia pun hanya bisa memanaskan kendaraan roda duanya. Dia pun pergi ke salesman tempat dia beli motor itu.
Sambil marah marah dia pun bertanya kenapa motornya tidak bisa jalan.
Salesman itu bingung karena tidak ada yang salah dengan motor itu saat diserahkan ke bapak itu.
Akhirnya salesman bersama dengan orang itu ke rumahnya di kampung karena pengen tau bagaimana caranya dia mengendarai motornya.
Bapak itu kemudian dengan pede menyalakan motornya dan kemudian memutar gas dengan kencang. Tapi motor itu pun tidak bergerak seinchipun.
Salesman yang tau problemnya kemudian berkata, GIGInya dimasukkan dulu pak, baru nanti di gas.
Orang itu kemudian mengulum GIGInya yang mrongos dan dengan pedenya memainkan gas motor barunya .....
Dia pun kembali ke rumah dengan perasaan bangga dan senang.
Waktu berjalan, ternyata dia tidak bisa juga mengendarai motor itu. Jadi setiap hari dia pun hanya bisa memanaskan kendaraan roda duanya. Dia pun pergi ke salesman tempat dia beli motor itu.
Sambil marah marah dia pun bertanya kenapa motornya tidak bisa jalan.
Salesman itu bingung karena tidak ada yang salah dengan motor itu saat diserahkan ke bapak itu.
Akhirnya salesman bersama dengan orang itu ke rumahnya di kampung karena pengen tau bagaimana caranya dia mengendarai motornya.
Bapak itu kemudian dengan pede menyalakan motornya dan kemudian memutar gas dengan kencang. Tapi motor itu pun tidak bergerak seinchipun.
Salesman yang tau problemnya kemudian berkata, GIGInya dimasukkan dulu pak, baru nanti di gas.
Orang itu kemudian mengulum GIGInya yang mrongos dan dengan pedenya memainkan gas motor barunya .....
Rabu, 10 Februari 2010
Gigi (1)
Ini bukanlah grup band Gigi yang terkenal itu.
Tapi ini tentang gigiku.
Aku terlahir dengan susunan gigi yang kurang sempurna. Bentuknya kecil kecil dan tidak rata. Tapi tidak mrongos kok, hahaha. Bunda pernah cerita saat dia mengandung diriku, bunda kurang minum kalsium. It's okay bagiku. Tidak pernah kusesali hal itu terjadi.
Ini cerita tentang gigiku....
Aku kehilangan separuh gigiku saat aku SD kelas 6. Saat itu ada tutor. Dengan semangat 45 aku berangkat. Setelah sampai di sekolahan, seperti biasa aku bermain main dulu. Namun kemudian hujan mengguyur Klaten. Aku dan teman temanku berhenti main. Waktu terus berjalan, hujan masih turun dan guru tidak datang.
Akhirnya aku dan teman teman memutuskan untuk bermain kembali di lapangan basket dalam suasana hujan. Saat itu memang hujan deras dan kita bermain basket. Aku berlari ke sana kemari dengan riangnya.
Namun sial, dalam suatu kesempatan, aku bertabrakan dengan temanku dan jatuh dengan posisi mulut duluan mencium kerasnya lapangan basket. Aku melanjutkan mainku, namun ada yang aneh. Aku merasakan ada rasa darah dan terasa perih di mulutku.
Aku pun lari ke ruang UKS dan berkaca.
Whaaaaaaaaaaaaaat ????
Gigiku ternyata patah separuh tepat gigi depan. Aku lari lagi ke lapangan, seluruh teman temanku aku suruh cari potongan gigiku yang hilang, ga tau apa yang ada dalam pikiranku saat itu. Kebetulan aku ketua kelas, jadi semua teman temanku ikut aja perintahku. Namun apa daya, separuh gigiku hilang entah kemana.
Itulah saat aku kehilangan separuh gigiku dan aku dipanggil Gempil, sampai gigiku aku sambung kembali lulus SMA.
Mantol
Mantol atau jas hujan adalah perangkat wajibku saat aku dulu masih naik motor.
Dan mantol kali ini memberikan aku sebuah cerita :)
Dulu mantol yang aku miliki bentuknya adalah yang model jubah panjang. Selain tidak egois, karena mantol ini dapat digunakan lebih dari satu orang.
Ini kejadian saat aku kuliah di kota Ngayogjakarta. Seperti biasa aku kuliah siang sampai sore hari (maklum predikat mahasiswa abadi masih melekat pada diriku).
Saat itu mendung meliputi kota Jogja. Aku sudah selesai kuliah dan sedang nongkrong di parkiran kampus. Tiba tiba ada seorang teman dari Klaten juga dan juga teman dari SMP. Dia kebetulan juga sudah selesai kuliah. Setelah ngobrol kesana kemari kita lihat hari sudah agak sore. Kita pun kemudian memutuskan untuk pulang ke Klaten.
Aku pun menuju ke motor tercintaku. Dan segera menghampiri Yudi temanku tadi. Namun ternyata dia tidak membawa helm. Mau tidak mau kita harus mencari pinjaman helm. Dasar sial, karena sudah sore maka tidak ada teman yang bisa dipinjami helm.
Tiba tiba terlintas dalam pikiranku untuk menggunakan mantol yang ada di dalam jok motorku. Jadi rencananya nanti kalau ketemu polisi, Yudi akan menyembunyikan kepalanya dalam mantol itu. Hahahaha, lumayan licik neh maksudnya.
Karena waktu itu musim hujan jadi kita pun tanpa pikir panjang langsung saja menjalankan rencana itu meskipun pada hari itu tidak hujan bahkan sangat cerah.
Lewat lampu merah pertama dekat Mirota kampus aman. Kitapun meluncur ke lampu merah kedua diperempatan dekat lembah. Tidak ada polisi di sana. Kita pun masih aman. Setelah lewat lampue merah dalam kota maka Yudipun menyembunyikan kepalanya dalam mantol. Serasa senang banget bisa mengerjai polisi waktu itu. Karena sempat kecelakaan, kalau naik motor aku santai saja, stabil di kecepatan 60-70 kpj.
Setelah berjalan beberapa saat, tiba tiba Yudi minta berhenti. Aku pikir dia pengen buang air kecil. Namun bukan areal persawahan yang diminta melainkan warung wedangan di dekat jembatan Prambanan. Aku makin bertanya tanya buat apaan minum teh jam segini. Namun karena Yudi memaksa akupun berhenti.
Setelah berhenti aku lihat wajah Yudi pucat pasi (disamping warnanya yang hitam sih :p). Aku pun bertanya, apa yang terjadi.
Ternyata......... Yudi mabuk darat. What????
Naik motor bisa mabuk ? Aku pun ketawa dan kaget. Aku pikir aku salah dengar. Ternyata benar dia menjawab mabuk. Aku semakin bernafsu bertanya, apa aku naik motornya sembrono. Dia menjawab bukan. Akhirnya dia menunjuk mantolku.
Sambil berkata, ambunen (ciumlah) Ga mantolmu.
Aku pun mencium mantolku bagian dalam. Dan sungguh dahsyat, ternyata baunya bagaikan cucian yang sudah direndam semingguan lebih. Aku ingat ingat ternyata terakhir aku pakai, aku langsung melipat mantol itu tanpa menjemurnya.
Hahahahha, pantas saja baunya begitu. Untung tidak pingsan ya Yud :p
Dan mantol kali ini memberikan aku sebuah cerita :)
Dulu mantol yang aku miliki bentuknya adalah yang model jubah panjang. Selain tidak egois, karena mantol ini dapat digunakan lebih dari satu orang.
Ini kejadian saat aku kuliah di kota Ngayogjakarta. Seperti biasa aku kuliah siang sampai sore hari (maklum predikat mahasiswa abadi masih melekat pada diriku).
Saat itu mendung meliputi kota Jogja. Aku sudah selesai kuliah dan sedang nongkrong di parkiran kampus. Tiba tiba ada seorang teman dari Klaten juga dan juga teman dari SMP. Dia kebetulan juga sudah selesai kuliah. Setelah ngobrol kesana kemari kita lihat hari sudah agak sore. Kita pun kemudian memutuskan untuk pulang ke Klaten.
Aku pun menuju ke motor tercintaku. Dan segera menghampiri Yudi temanku tadi. Namun ternyata dia tidak membawa helm. Mau tidak mau kita harus mencari pinjaman helm. Dasar sial, karena sudah sore maka tidak ada teman yang bisa dipinjami helm.
Tiba tiba terlintas dalam pikiranku untuk menggunakan mantol yang ada di dalam jok motorku. Jadi rencananya nanti kalau ketemu polisi, Yudi akan menyembunyikan kepalanya dalam mantol itu. Hahahaha, lumayan licik neh maksudnya.
Karena waktu itu musim hujan jadi kita pun tanpa pikir panjang langsung saja menjalankan rencana itu meskipun pada hari itu tidak hujan bahkan sangat cerah.
Lewat lampu merah pertama dekat Mirota kampus aman. Kitapun meluncur ke lampu merah kedua diperempatan dekat lembah. Tidak ada polisi di sana. Kita pun masih aman. Setelah lewat lampue merah dalam kota maka Yudipun menyembunyikan kepalanya dalam mantol. Serasa senang banget bisa mengerjai polisi waktu itu. Karena sempat kecelakaan, kalau naik motor aku santai saja, stabil di kecepatan 60-70 kpj.
Setelah berjalan beberapa saat, tiba tiba Yudi minta berhenti. Aku pikir dia pengen buang air kecil. Namun bukan areal persawahan yang diminta melainkan warung wedangan di dekat jembatan Prambanan. Aku makin bertanya tanya buat apaan minum teh jam segini. Namun karena Yudi memaksa akupun berhenti.
Setelah berhenti aku lihat wajah Yudi pucat pasi (disamping warnanya yang hitam sih :p). Aku pun bertanya, apa yang terjadi.
Ternyata......... Yudi mabuk darat. What????
Naik motor bisa mabuk ? Aku pun ketawa dan kaget. Aku pikir aku salah dengar. Ternyata benar dia menjawab mabuk. Aku semakin bernafsu bertanya, apa aku naik motornya sembrono. Dia menjawab bukan. Akhirnya dia menunjuk mantolku.
Sambil berkata, ambunen (ciumlah) Ga mantolmu.
Aku pun mencium mantolku bagian dalam. Dan sungguh dahsyat, ternyata baunya bagaikan cucian yang sudah direndam semingguan lebih. Aku ingat ingat ternyata terakhir aku pakai, aku langsung melipat mantol itu tanpa menjemurnya.
Hahahahha, pantas saja baunya begitu. Untung tidak pingsan ya Yud :p
Jumat, 05 Februari 2010
N a i k M o t o r
Yuuhuuuu........... mumpung masih senang-senangnya nulis blog.
Hari ini aku melihat suatu batas ketololan dan kebodohan. Banyak orang bilang batasnya tipis sich.
Pagi ini aku berangkat dari rumah seperti biasa kurang lebih pukul 5.45. Dari rumah aku naik angkot sampai ke perempatan terdekat, kemudian aku berganti naik mini bis kearah pintu tol lingkar luar bogor.
Setelah turun dari bis, seperti biasa aku berjalan menuju tempat dimana aku akan nebeng temanku. Sambil menunggu, mataku melihat-lihat situasi di sekelilingku. Kebiasaanku mencari cerita untuk anak cucuku.
Dan akhirnya cerita itu datang juga padaku. Sebuah motor dengan penumpang 3 orang melintas didepanku. Dan dengan pede nya dia belok kiri menuju arah..............JALAN TOL.
Instingku mengatakan akan ada sebuah cerita disini. Aku pun kemudian berjalan menuju perempatan jalan. Dan benar, motor itu sudah ditangkap oleh polisi yang kebetulan berjaga disitu.
Aku melihat 2 orang penumpang motor itu disuruh turun dan pengendaranya ditilang.
Hahahaaaaaaaaa........................., entah ini bodoh atau tolol aku tidak tahu jawabnya. Dan pagi hari ini pun Pak Polisi mendapatkan uang tuk makan pagi ;)
Hari ini aku melihat suatu batas ketololan dan kebodohan. Banyak orang bilang batasnya tipis sich.
Pagi ini aku berangkat dari rumah seperti biasa kurang lebih pukul 5.45. Dari rumah aku naik angkot sampai ke perempatan terdekat, kemudian aku berganti naik mini bis kearah pintu tol lingkar luar bogor.
Setelah turun dari bis, seperti biasa aku berjalan menuju tempat dimana aku akan nebeng temanku. Sambil menunggu, mataku melihat-lihat situasi di sekelilingku. Kebiasaanku mencari cerita untuk anak cucuku.
Dan akhirnya cerita itu datang juga padaku. Sebuah motor dengan penumpang 3 orang melintas didepanku. Dan dengan pede nya dia belok kiri menuju arah..............JALAN TOL.
Instingku mengatakan akan ada sebuah cerita disini. Aku pun kemudian berjalan menuju perempatan jalan. Dan benar, motor itu sudah ditangkap oleh polisi yang kebetulan berjaga disitu.
Aku melihat 2 orang penumpang motor itu disuruh turun dan pengendaranya ditilang.
Hahahaaaaaaaaa........................., entah ini bodoh atau tolol aku tidak tahu jawabnya. Dan pagi hari ini pun Pak Polisi mendapatkan uang tuk makan pagi ;)
Kamis, 04 Februari 2010
Aku dan Satpam
Cerita ini adalah saat aku interview di tempat aku bekerja sekarang. Aku punya kebiasaan yang tidak bisa aku hilangkan di saat aku sedang grogi. Yaitu sakit perut dan dilanjutkan dengan ke toilet. Tapi demikian setiap peristiwa di mana aku test atau interview dan aku sakit perut, aku pasti lolos, huahahhaha, entah ini sesuatu yang membanggakan atau menjijikkan :)
Kembali ke benang merah (seperti yang di OVJ), saat itu aku ada di lantai 7 dan sedang menunggu seseorang yang akan melakukan interview kepadaku. Aku sudah berdandan layaknya eksmud dengan menggunakan dasi dan kemeja lengan panjang.
Tapi seiring berjalannya waktu,penyakit akut itu datang. Semakin lama ditahan semakin tidak enak terasa diperut. Mau tidak mau harus dikeluarkan. Akhirnya aku keluar dari ruangan mencari toilet. Setelah mencari-cari akhirnya ketemu juga dilorong. Namun sial, dari tiga bilik yang ada semuanya sudah terisi. Dengan perasaan tidak karuan aku harus mencari toilet lain.
Aku pun berjalan menuju lift, dan begitu pintu lift terbuka aku langsung bergegas masuk dan tanpa pikir panjang langsung menekan angka 6 yang ada didepanku. Begitu pintu tertutup dan kemudian lift turun ke lantai 6.
Langsung aku keluar dan dengan langkah tegap dan percaya diri aku langsung belok kiri menuju ke toilet lantai 6. Tak disangka tak dinyana seorang satpam berbadan kekar berlari mengejarku. Aku pun memasang tampang tak berdosa saat ditanya hendak kemana. Dan aku pun menjawab dengan pasti, "ke toilet Pak", kataku.
Dan jawaban yang tak terduga keluar dari mulut si pria kekar itu. "Silahkan bapak kelantai 1 saja", jawabnya.
Mendengar jawabnya, penyakit akut itu tiba-tiba lenyap dari perutku. Dan aku bergegas kembali ke lantai 7 dimana aku akan interview.
Jawabannya aku tahu setelah aku diterima kerja disini.
Lantai 6 adalah tempatnya BOD (Direksi). Dan sejak saat itu di dekat pintu lift lantai 6 ditempatkan seorang satpam dan pintu darurat menuju lantai 6 tidak bisa dibuka dari luar.
Maafkan aku yah rekan-rekan.............
Kembali ke benang merah (seperti yang di OVJ), saat itu aku ada di lantai 7 dan sedang menunggu seseorang yang akan melakukan interview kepadaku. Aku sudah berdandan layaknya eksmud dengan menggunakan dasi dan kemeja lengan panjang.
Tapi seiring berjalannya waktu,penyakit akut itu datang. Semakin lama ditahan semakin tidak enak terasa diperut. Mau tidak mau harus dikeluarkan. Akhirnya aku keluar dari ruangan mencari toilet. Setelah mencari-cari akhirnya ketemu juga dilorong. Namun sial, dari tiga bilik yang ada semuanya sudah terisi. Dengan perasaan tidak karuan aku harus mencari toilet lain.
Aku pun berjalan menuju lift, dan begitu pintu lift terbuka aku langsung bergegas masuk dan tanpa pikir panjang langsung menekan angka 6 yang ada didepanku. Begitu pintu tertutup dan kemudian lift turun ke lantai 6.
Langsung aku keluar dan dengan langkah tegap dan percaya diri aku langsung belok kiri menuju ke toilet lantai 6. Tak disangka tak dinyana seorang satpam berbadan kekar berlari mengejarku. Aku pun memasang tampang tak berdosa saat ditanya hendak kemana. Dan aku pun menjawab dengan pasti, "ke toilet Pak", kataku.
Dan jawaban yang tak terduga keluar dari mulut si pria kekar itu. "Silahkan bapak kelantai 1 saja", jawabnya.
Mendengar jawabnya, penyakit akut itu tiba-tiba lenyap dari perutku. Dan aku bergegas kembali ke lantai 7 dimana aku akan interview.
Jawabannya aku tahu setelah aku diterima kerja disini.
Lantai 6 adalah tempatnya BOD (Direksi). Dan sejak saat itu di dekat pintu lift lantai 6 ditempatkan seorang satpam dan pintu darurat menuju lantai 6 tidak bisa dibuka dari luar.
Maafkan aku yah rekan-rekan.............
1st Touch
Akhirnya punya blog sendiri.
Mungkin sedikit terlambat karena mungkin dah gak jamannya ya :)
Saya hanyalah ingin berbagi cerita dengan semuanya. Cerita kehidupan yang pernah aku alami, bersama sahabatku, keluarga, dan rekan rekanku. Jika ada yang merasa terganggu dengan ceritaku, ntar via japri saja ya, ntar aku hapus, hhuehehhehe.
Moga bisa tetap bisa menulis di tengah kesibukan kerja dan hidup berkeluarga, hahahahaha.
Mungkin sedikit terlambat karena mungkin dah gak jamannya ya :)
Saya hanyalah ingin berbagi cerita dengan semuanya. Cerita kehidupan yang pernah aku alami, bersama sahabatku, keluarga, dan rekan rekanku. Jika ada yang merasa terganggu dengan ceritaku, ntar via japri saja ya, ntar aku hapus, hhuehehhehe.
Moga bisa tetap bisa menulis di tengah kesibukan kerja dan hidup berkeluarga, hahahahaha.
Langganan:
Postingan (Atom)
