Mantol atau jas hujan adalah perangkat wajibku saat aku dulu masih naik motor.
Dan mantol kali ini memberikan aku sebuah cerita :)
Dulu mantol yang aku miliki bentuknya adalah yang model jubah panjang. Selain tidak egois, karena mantol ini dapat digunakan lebih dari satu orang.
Ini kejadian saat aku kuliah di kota Ngayogjakarta. Seperti biasa aku kuliah siang sampai sore hari (maklum predikat mahasiswa abadi masih melekat pada diriku).
Saat itu mendung meliputi kota Jogja. Aku sudah selesai kuliah dan sedang nongkrong di parkiran kampus. Tiba tiba ada seorang teman dari Klaten juga dan juga teman dari SMP. Dia kebetulan juga sudah selesai kuliah. Setelah ngobrol kesana kemari kita lihat hari sudah agak sore. Kita pun kemudian memutuskan untuk pulang ke Klaten.
Aku pun menuju ke motor tercintaku. Dan segera menghampiri Yudi temanku tadi. Namun ternyata dia tidak membawa helm. Mau tidak mau kita harus mencari pinjaman helm. Dasar sial, karena sudah sore maka tidak ada teman yang bisa dipinjami helm.
Tiba tiba terlintas dalam pikiranku untuk menggunakan mantol yang ada di dalam jok motorku. Jadi rencananya nanti kalau ketemu polisi, Yudi akan menyembunyikan kepalanya dalam mantol itu. Hahahaha, lumayan licik neh maksudnya.
Karena waktu itu musim hujan jadi kita pun tanpa pikir panjang langsung saja menjalankan rencana itu meskipun pada hari itu tidak hujan bahkan sangat cerah.
Lewat lampu merah pertama dekat Mirota kampus aman. Kitapun meluncur ke lampu merah kedua diperempatan dekat lembah. Tidak ada polisi di sana. Kita pun masih aman. Setelah lewat lampue merah dalam kota maka Yudipun menyembunyikan kepalanya dalam mantol. Serasa senang banget bisa mengerjai polisi waktu itu. Karena sempat kecelakaan, kalau naik motor aku santai saja, stabil di kecepatan 60-70 kpj.
Setelah berjalan beberapa saat, tiba tiba Yudi minta berhenti. Aku pikir dia pengen buang air kecil. Namun bukan areal persawahan yang diminta melainkan warung wedangan di dekat jembatan Prambanan. Aku makin bertanya tanya buat apaan minum teh jam segini. Namun karena Yudi memaksa akupun berhenti.
Setelah berhenti aku lihat wajah Yudi pucat pasi (disamping warnanya yang hitam sih :p). Aku pun bertanya, apa yang terjadi.
Ternyata......... Yudi mabuk darat. What????
Naik motor bisa mabuk ? Aku pun ketawa dan kaget. Aku pikir aku salah dengar. Ternyata benar dia menjawab mabuk. Aku semakin bernafsu bertanya, apa aku naik motornya sembrono. Dia menjawab bukan. Akhirnya dia menunjuk mantolku.
Sambil berkata, ambunen (ciumlah) Ga mantolmu.
Aku pun mencium mantolku bagian dalam. Dan sungguh dahsyat, ternyata baunya bagaikan cucian yang sudah direndam semingguan lebih. Aku ingat ingat ternyata terakhir aku pakai, aku langsung melipat mantol itu tanpa menjemurnya.
Hahahahha, pantas saja baunya begitu. Untung tidak pingsan ya Yud :p
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar